Top-ads

Wisata Jawa

Catatan

The Latest


“Dalam setiap kerapuhan ada semangat untuk kebangkitan. Dalam setiap titik airmata ada kesedihan sekaligus kerinduanku padaMu. Tapi ya Rabb…sampai saat ini aku belum menemukan jati diriku yang sebenarnya. Hanya untuk inikah aku di ciptakan? Hanya inikah yang mampu aku lakukan? Aku yakin ada sesuatu yang lain yang bisa ku lakukan, aku yakin ada kelebihan yang Kau berikan.”

semangat kebangkitan

Termenung saat beraktivitas selalu saja berimplikasi terhadap pemikiran-pemikiran aneh seputar inkonsistensi dalam berbagai hal. Banyak orang yang berpikiran positif tentang Saya, kerja di kampus, pendapatan dalam monotize blog, bahkan akhir-akhir ini sempat ditawari masuk di bidang publikasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Bagi Saya, hal itu adalah anggapan subyektif yang kurang tepat. Toh, hal itu tidak sesuai dengan realitas yang Saya hadapi. Pola hidup yang tidak tertata rapi hingga tanggung jawab sosial yang terabaikan selalu menghantui pikiran. 

Pola hidup yang semakin kacau terasa menggelitik dengan adanya sikap penyesalan dan rasa bersalah terhadap kedua orang yang memberikan kepercayaan penuh kepada Saya. Salah satu di antara sekelumit masalah tersebut adalah kurang perhatian terhadap amanah yang diembankan, terlihat dari pengembangan hobi lebih dominan dibandingkan dengan pengasahan kemampuan yang menunjang kesuksesan akademik di masa mendatang.

Bertemu orang-orang baru yang memiliki banyak pengalaman, strata sosial lebih bagus, hingga strata akademik lebih tinggi, mengetuk hati Saya “ternyata masa yang Anda lalui tidak seberapa dibandingkan dengan realitas baru yang jauh lebih hebat” tersadar dengan ketertinggalan yang tidak sedikit ini, baik bidang akademik maupun keahlian lain yang menunjang kemampuan diri, selalu saja tumbuh rasa “ingin” memperbaiki diri, redesign schedule hingga selalu berdoa terhindar dari aktivitas yang sia-sia.

Kata “move on” begitu mudah terucap, namun realisasi kata tersebut sangat jauh dari aktualisasi yang Saya lakukan. Begitu juga dengan kata “Tidak ada kata terlambat” adalah kata-kata yang selalu terngiang dalam benak Saya, meskipun realisasinya sangat jauh dari kata maksimal. Kedepannya, harapan akan segala aktivitas akan menuai hasil yang mamuaskan selalu di nanti. Meskipun di satu sisi, seorang dikatakan sukses dalam bidang ITU, di sisi lain dikatakan sukses di bidang INI, kesemuanya kembali kepada pribadi masing-masing dalam menyikapi paradigma yang berkembang di masyarakat. 

Usaha yang keras tidak serta merta diabaikan oleh Pemberi Kehidupan”. Hanya seuntai kata ini yang masih bersemayam dalam diri Saya dan tiada keraguan atas-Nya. Hamba yang hina ini yakin suatu saat akan memetik benih yang tertanam di masa sekarang. Amiin

Tiba-tiba saja saya ingin mencurahkan beberapa kegalauan yang sempat membuat sy merasa down hingga memutuskan tidak untuk saat ini, seperti kata beberapa orang “biarlah indah pada waktunya”. Barmula dari beberapa interaksi di kantor yang tidak ingin sy pertahankan hingga akhirnya memutuskan resign karena ketidaksukaan ini. Ya inilah semua awal dari rasa yang tidak ingin sy alami. Resign pekerjaan di kampus memicu saya untuk mencari rutinitas baru, berhubung karena perkuliahan s2 masih 2 bulan lagi maka saya akhirnya berkunjung ke kampung pare untuk belajar bahasa Inggris. Titik awal rasa ini terjadi.

Tidak untuk Saat ini adalah Pilihan Terbaik 2

Sebenarnya sy memiliki banyak kenangan indah dengan beberapa orang dan telah mengiasi kehidupan sy. Sebut saja si “N” Jurusan Bahasa Inggris, si “W” Jurusan Kedokteran, si “A” Jurusan Keperawatan, si “F” Jurusan Apoteker, si “E” Jurusan Kebidanan dan terkahir si “U” Jurusan Manajemen. Dari sekian inisial tersebut mungkin teman2 berpikiran sy adalah kolektor sejati. Hihihi

Yah begitulah faktanya, dari beberapa inisial tersebut mungkin hanya satu yang saya relakan kepergiannya, 2 diantaranya telah menikah, 1 telah memberikan undangan, 3 diantaranya bahkan telah ta’arufan dengan keluarga sy, bahkan sy pun telah dikenal baik oleh keluarga mereka. Namun dari keenam inisial tersebut tidak ada satupun yang bertahan hingga sekarang, terkahir bulan September ini. Hihihi

Alhamdulillah selama saya menjalin hubungan, sy selalu berazam untuk menikahi mereka,. Namun niat kuat tersebut tidak seindah dengan fakta yang terjadi dengan kami. wkwkw mungkin waktu terlama hanya di kisaran 2 tahun, selebihnya hanya berlangung beberapa bulan.

Sedikitpun saya tidak bermakud membandingkan mereka, namun mereka memiliki kelebihan yang tidak dimiliki dari yang lain dan itu yang mebuat saya mengingatnya hingga sekarang. Sebut saja si “N” hadir kapanpun sy butuhkan, si “W” Pintar dan Pengertian, si “A” Pintar dan shalihah, si “F” Karismatik dan keibu-ibuan, si “E” memiliki sifat manja, dan si “U” terasa sudah seperti istri. 

Sy pun sempat disukai oleh beberapa orang yang tidak sesuai dengan keinginan sy, bukanya sy tidak ingin menjalin hubungan dengan mereka namun ada satu kriteria yang wajib dimiliki orang tersebut, islaminya tidak melebihi saya dan harus pintar membuat sy tidak mudah melupakannya. hehehe

Sesuai dengan judul tulisan ini, tidak untuk saat ini adalah pilihan terbaik. Mengingat beberapa hari terkahir, sy merasa sulit untuk melupakan peristiwa yang terjadi di kampung pare. Mungkin hanya 2 bulan, namun ada banyak peristiwa yang susah sy lupakan hingga saya menulis artikel ini.

Si “U” yang menjadi akhir kisah ini, susah untuk dilupakan bahkan berdampak pada aktivitas offline maupun online, tidak konsen dengan urusan organisasi dan perkuliahan, hingga tidak konsen dengan pendapatan utama sy monotize website.

Kedepanya sy berharap dipertemukan dengan orang yang tepat di masa yang tepat, sehingga dapat sy pertahankan untuk menemani kehidupan sy hingga akhir hayat. Amiin

Kepulangan saya kali ini, merupakan liburan yang tidak terduga dan tidak terencana sebelumnya. Mudik saat semua orang kembali beraktivitas adalah sebuah keterpaksaan. Sengaja tidak mudik saat liburan demi mengejar gelar kesarjanaan yang akan saya emban adalah perjuangan yang tidaklah mudah. Alhamdulillah, saya dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan dan telah diwisuda 18 oktober 2014. Rasa syukur tak terhingga kepada Pemberi kenikmatan serta ucapan terimah kasih kepada pihak-pihak terkait atas sumbangsih tenaga, moril maupin materil demi meraih gelar kesarjanaan ini. 

Sebelum saya mengawali alur cerita ini, ada baiknya anda membaca tulisan saya sebelumnya (baca: Passimbungan Jilid Pertama). Sebenarnya saya tidak ingin menuangkan pemikiran saya dalam bentuk tulisan elektronik, namun dengan tujuan untuk dijadikan sebagai bahan introspeksi serta acuan menjadi insan yang lebih bermanfaat bagi sesama maka tulisan ini saya terbitkan di blog pribadi ini. 

Alhamdulillah desaku tercinta semakin menunjukkan perkembangan yang signifikan walaupun ada beberapa pihak yang mengucapkan "sa nakamma-kammanaji anne passimbunganngBagi saya hal tersebut tidaklah benar, perubahan dari segi fisik adalah bukti nyata perkembangan desaku, banyak rumah mewah yang telah dibangun dan lebih membanggakan lagi intensitas jamaah yang dulunya hanya dua orang sekarang menjadi lima hingga sepuluh orang. alhamdulillah

Perkembangan desa dari segi fisik tidak sejalan dengan perilaku oknum masyarakat yang menjadi-jadi, sebut saja ada oknum yang masih memiliki pemikiran konservatif, iri, tidak tau ucapan terimah kasih hingga provokatif. Problema ini biasa terjadi dalam tatanan masyarakat, namun jika hal itu semakin berlarut-larut, maka kualitas sebuah masyarakat akan dipertanyakan. misalnya "eh ternyata kampung si anu begini ya". Naudzubillah

Saya tidak menafikan bahwa salah satu keluarga ada yang memiliki sifat ini, hal itu terdengar jelas dari beberapa penuturan masayarakat. Sungguh dilematis, di satu sisi saya tidak senang, di sisi lain ada keluarga yang berperilaku seperti itu. Mudahan kedepanya kita semakin terhindar dari penyakit tersebut. amin

Ada baiknya kita menilik kembali firman Allah SWT dan sabda Nabi Saw berikut:


“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah sebagian kalian menggunjingkan (ghibah) sebagian yang lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertawakalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujuraat : 12)

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nur – 19)

Di dalam Sunan Tirmidzi terdapat riwayat yang menceritakan hadist dari jalan Ibnu ‘Umar, beliau berkata : Rasulullah SAW naik mimbar dan menyeru dengan suara lantang, “Wahai segenap manusia yang masih beriman dengan lisannya namun iman itu belum meresap ke dalam hatinya janganlah menyakiti kaum muslimin. Dan janganlah melecehkan mereka. Dan janganlah mencari-cari kesalahan-kesalahan mereka. Karena sesungguhnya barang siapa yang mencari-cari kejelekan saudaranya sesama muslim maka Allah akan mengorek-ngorek kesalahannya. Dan barang siapa yang dikorek-koorek kesalahannya oleh Allah maka pasti dihinakan, meskipun dia berada di dalam bilik rumahnya.


“Tahukan kalian apa itu ghibah?”, mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda, “Yaitu engkau menceritakan tentang saudaramu yang membuatnya tidak suka.” Lalu ditanyakan kepada beliau, “Lalu bagaimana apabila pada diri saudara saya itu kenyataannya sebagaimana yang saya ungkapkan?” Maka beliau bersabda, “Apabila cerita yang engkau katakan itu sesuai dengan kenyataan maka engkau telah meng-ghibahi-nya. Dan apabila ternyata tidak sesuai dengan kenyataan dirinya maka engkau telah berdusta atas namanya.” (HR. Muslim)

Sudah sepatutnya kita memperbaiki diri, saling membahu, saling menjaga, agar terciptanya masyarakat yang harmonis. Coba di renungkan ketika kita meninggalkan rumah/liburan (isi rumah kosong), siapa lagi yang menjaga keamanan kecuali tetangga. Ketika kita sakit, siapa lagi yang akan mengantarkan ke rumah sakit kecuali tetangga. ketika hajatan, siapa lagi yang membantu masak kecuali tetangga. Ketika meninggal siapa lagi yang mengiringi jenazah kecuali tetangga. Mudahan tulisan pendek ini dapat memotivasi diri kita menjadi manusia yang lebih baik.  

Wisata bromo memiliki daya tarik serta pemandangan yang sangat eksotis yang dapat dijadikan destinasi wisata. Pesona eksotis tersebut terlihat dari pemandangan matahari terbit (sunrise) dan hamparan lautan pasir yang membentangi kaldera dengan kawah yang memiliki ketinggian 2,392 M. Kawasan pegunungan Bromo dapat diakses dari arah mana saja termasuk dari arah Malang. Ketertarikan saya untuk menyambangi gunung Bromo telah lama saya idam-idamkan, namun selalu terkendala dengan aktivitas perkuliahan dan pekerjaan di jogja. Hingga suatu ketika, hasrat mendaki gunung bromo terpenuhi berkat acara walimahan di Probolinggo. ya tentu kawan-kawan dah pade ngerti "kegiatan yang dibarengi dengan kegiatan lain pasti kagak fokus" demikian juga joka-joka ke Bromo yang dibarengi dengan acara walimahan. Teman-teman backpaker kagak perlu kecewa, walaupun saya tidak mengunjungi keseluruhan wisata gunung Bromo namun saya akan membagikan pengalaman yang tidak harus anda alami, sehingga anda dapat menikmati keindahan tour gunung bromo.

Tips Backpacking Wisata Pegunungan Bromo


Bromo merupakan tujuan wisata ketiga terpopuler setelah Bali dan Lombok yang banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Menunggu sunrise di penanjakan, berpelukan di bukit teletabis hingga menjelajahi bukit pasir berbisik menuju kawah Bromo adalah sesuatu yang sangat menakjubkan untuk dinikmati. Waakkakaka Agar anda tidak kecewa ketika mengunjungi tempat wisata ini ada baiknya memperhatikan beberapa hal berikut:

Ketahuilah Seluk beluk Gunung bromo,- Ibarat akan melakukan sebuah ujian, maka hal yang wajar yang harus dilakukan adalah mempersiapkan materi yang akan diujiankan. Menurut saya, persiapan yang matang adalah kunci perjalanan yang menyenangkan. Hal ini yang saya alami ketika bersua ke bromo. minimnya persiapan menimbulkan rasa ketidakpuasan. hihihi Mulai dari pakaiann yang serba unik, mahalnya biaya transfortasi, hingga kebingungan dengan tujuan utama yang hendak dicapai di Bromo. wakakakaka ya... setidaknya hanya saya yang merasakan, bukan teman2 yang lagi baca :p

Perhatikan Pakaian,- Suhu udara bromo yang sangat dingin mengharuskan kita untuk membawa pakaian yang tebal. Waktu itu, saya hanya berpakain ala kadarnya, cos saya hanya sekedar mampir (tidak memiliki tujuan wisata seperti biasanya) jadi pakaian yang saya gunakan pun, tidak menunjukkan ingin mendaki gunung bromo. Wakkakaka jangan ditiru men... :p

Pemandangan Wisata Gunung Bromo

Menurut warga setempat cuaca gunung bromo mencapai 3°-10°celcius. Bagi kita yang berada di iklim tropis, iklim ini merupakan cuaca yang sangat dingin dan sangat dianjurkan untuk memakai jaket, sarung tangan, kupluk, sepatu boot atau hiking, masker (untuk menahan debu), bahkan syal yang dipasang dileher, dan senter untuk perjalanan di malam hari.

Saya tiba di kaki bromo pada pukul 13.00, ya walaupun siang hari cuacanya pun tidak terasa panas bahkan. Destinasi pertama yang saya datangi adalah kawah gunung bromo. Untuk menikmati pemandangan kawah Bromo yang mengeluarkan asap serta menikmati keeksotisan lautan pasir, setidaknya saya harus melalui 250 anak tangga (lihat gambar berikut).

Penginapan di dekat Bromo

Persiapan Makanan, Sudah menjadi tradisi bahwa harga makanan di sekitar tempat wisata relatif lebih mahal dibandingkan dengan tempat umum lainnya. Memang banyak sih yang menjual jajanan tp ada baiknya membawa beberapa makanan untuk mengantisipasi kelaparan di saat yang tidak kita inginkan. so bawalah karung yang berisi makanan sebanyak-banyaknya. wakakakakak

Berapa harga Jeep ke wisata bromo?,- Harga penyewaan jeep tergantung rute yang akan ditempuh, apakah hanya ingin mengunjungi bukit teletabis, bukit pasir berbisik, ataukah kawah bromo, ataukah ingin keduanya ataupun ketiganya. Ketika itu saya hanya mengunjungi kawah bromo, biaya yang saya keluarkan pun sebanyak Rp. 250.000,- untuk 1 jeep yang berisikan 7 orang. Untuk tiket masuk bromo meebayar Rp. 10.000/orang.

Tour Wisata Gunung Bromo

Bromo Selalu Dihati

Untuk menghidupkan ekonomi masyarakat setempat, mobil pribadi dilarang memasuki area padang pasir. Sehingga untuk akses ke kaki gunung bromo, memerlukan kendaraan tambahan seperti jeep. jika merasa sanggup berjalan kaki ya monggo... :p

Sebenarnya saya masih berkeinginan untuk menyambangi sunrise Gunung Bromo, mungkin dilain waktu hastrat yang belum terpenuhi ini akan terpuaskan dengan persiapan yang lebih matang.

Gambar Narsis di Gunung Bromo


Keindahan Wisata Gunung Bromo


paket wisata bromo malang

biaya tour bromo


Kaki gunung bromo

Bromo adventure

Tampat Foto-foto di wisata Bromo

Pantai Greweng Tempat Wisata Baru di Jogja,- Menyambangi tempat wisata merupakan hal yang umum dilakukan oleh beberapa orang, terlebih lagi mereka membutuhkan ketenangan. Hal tersebut sering saya alami, merasa butuh nuansa baru untuk melepas rutinitas kuliah dan pekerjaan. Menjelang liburan akhir tahun 2013 saya mengunjungi beberapa tempat rekreasi di jogja, saya tertarik untuk menceritakan pengalaman yang saya alami ditempat tersebut. Ingat,,, di tempat wisata kita dapat menumpahkan segala apa yang ada dalam pikiran kita. hehehhe ini menurut saya.

Untuk memutuskan tempat wisata yang akan saya kunjungi, saya melakukan survey hingga beberapa kali. hal tersebut untuk membuktikan apakah tempat tersebut berpenghuni atau tidak. wkwkwkkw Setelah melakukan diaolog dengan beberapa teman, baik secara online dan offline kami memutuskan mengunjungi tempat wisata yang belum terjamah oleh manusia. Hati kami jatuh pada sebuah pantai yang dinamai Greweng. 

Lokasi tempat wisata Pantai Greweng di Desa Jepitu, Kecamatan Girisubo, Kebupaten Gunung kidul. 


Pantai Greweng saya sebut sebagai tempat wisata baru di jogja dikarenakan pantai ini belum menjadi destinasi para pecinta alam, hal lain yang menjadi alasan saya adalah belum adanya penduduk yang menetap di sekitar pantai. Masyarakat di sana  menamai pantai Greweng, untuk menggambarkan kondisi pantai yang terdiri dari karang dan bebatuan yang tersusun secara alami. Sebagian warga juga menyebut dengan istilah batuan kera.

Tidak sulit untuk menemukan lokasi Pantai Greweng. anda hanya menempuh perjalanan 1 kilometer untuk sampai di hilir pantai. Meski begitu, dibutuhkan sedikit perjuangan untuk mancapainya. Pantai Greweng ini berdekatan dengan pantai Wediombo. Lokasi pantai Greweng yang berada di balik bukit terjal serta jalan setapak, tidak memungkinkan kendaraan bermotor masuk sampai di bibir pantai. Sy menyarankan untuk menitip kendaraan di parkiran pantai Wediombo. 

Lokasi Parkir Pantai Wediombo (sebelum ke pantai Greweng)
Lokasi Parkir Pantai Wediombo (sebelum ke pantai Greweng)
Kami tiba di pantai Greweng pukul 14.00. Sengaja datang di siang hari untuk mengambil beberapa gambar cantik hingga menjelang sore. Keringat yang bercucuran serta tenaga yang terkuras terasa hilang ketika sampai di bibir Pantai Greweng. Tidak sia-sia, ternyata ada hasilnya. Suara deburan ombak bak tsunami serta warna pantai kekuning-kuningan menyambut kami. Indah sekali, seakan tidak mampu berkata lagi. Kamera langsung di mainkan jangan sampai momen spesial ini terlewatkan.

Sebagai gambaran, Pantai Greweng diapit dua bukit yang tidak begitu besar. Di tengahnya terdapat batu karang. Ketiganya tampak indah, karena ketika matahari tenggelam, terlihat seakan-akan bersembunyi di balik bukit tersebut. Pantai greweng terdiri dari pasir yang putih dan bersih. sengat cocok dijadikan sebagai tempat berkemah. lokasi wisata ini masih bersih dari sampah dan terlihat sangat alami. hilir air yang datang dari bukit gunung merupakan tanda keeksotisan pantai ini.

Kawasan Pantai Greweng  membentang sepanjang 100 M, jadi jangan takut untuk mengeksplorasikan diri dengan pantai... ingat hanya anda yang ada di sana, jangan malu untuk berenang bahkan berjemur. hahahhahaha

Pantai Grewen dapat Dijadikan Sebagai Tempat Wisata Untuk Berfoto Ria

Menunggu Sunset sambil berfoto ria di pantai Greweng jogja
Menunggu Sunset sambil berfoto ria di pantai Greweng jogja
Masih subuh dah Narsis di Greweng
Masih subuh dah Narsis di Greweng
Suasana Siang hari di Pantai Greweng
Suasana Siang hari di Pantai Greweng
Kebayang kagak main ke Greweng
Kebayang kagak main ke Greweng
Indahnya Minum Kopi di pagi hari di Pantai Greweng Jogja
Indahnya Minum Kopi di pagi hari di Pantai Greweng Jogja
Menanak Nasi di Pantai Greweng Jogja
Menanak Nasi di Pantai Greweng Jogja
Bakar Ayam dan Ubi Cilembu di Pantai Greweng Jogja
Bakar Ayam dan Ubi Cilembu di Pantai Greweng Jogja
Sunset tampak keren di pantai Greweng Jogja
Sunset tampak keren di pantai Greweng Jogja
Membeli Ikan Panjo di Pantai Greweng Jogja
Membeli Ikan Panjo di Pantai Greweng Jogja

Pesta demokrasi di zaman modern ini tidak hanya kita rasakan di parlemen saja namun sudah menyeluruh hingga merambah ke semua lapisan masyarkat tidak terkecuali Pilkades Desa Bontomanai kec. bajeng Barat Kab Gowa. Pembangunan desa merupakan struktur politik paling rendah dalam bangunan politik nasional. meskipun demikian pembangunan desa termasuk memiliki peranan penting dalam menciptakan negara yang maju.

Pembangunan desa dalam menyosngsong kebangkitan negara memang sangat dirindukan beberapa masyarakat, terlebih lagi jika dapat menciptakan suasana yang adil, damai dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Tujuan mulia ini tidak sejalan dengan cita-cita negara maupun masyarakat sebagai pelaku politik. Hal ini terlihat dari kebiasaan di desa yang telah dibangun malah sedikit demi sedikit pudar dari tujuan pembangunan desa.

Politik memecah keharmonisan antar Warga BontomanaiBeberapa bulan sebelum mudik tahun lalu, diadakan pesta akbar di pedesaan. Ada beberapa calon yang tampil sebagai wakil desa, kesemuanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. saya tidak akan menyoroti satu persatu wakil tersebut namun akan memberikan dampak dibalik pemilihan wakil rakyat ini. Salah satu dampak pilkades yang membuat saya prihatin adalah "berkurangnya rasa kekerabatan yang terjalin dengan warga".  Masing-masing memiliki figur yang diandalkan namun tidak sedikit dari mereka yang menjadikan figur tersebut sebagai perbedaan pendapat hingga memutus silaturrohim. baik itu dengan tetangga rumah, tetangga dusun, tetangga desa bahkan memutus silaturrohim dengan family sendiri. why??? jawabannya hanya mereka yang tau dan bagaimana harus menyikapi hal tersebut.

Di awal liburan, saya berkeinginan membuktikan perihal ketidakharmonisan tersebut. saya sengaja tidak mengendarai motor agar bisa menyapa warga. alhamdulillah semuanya masih menyapa, banyak di antara mereka yang menutursapa bahkan tidak sedikit dari mereka yang memuji saya "kamu semakin sejahtera di daerah rantau". hihiihi ternya barometer mereka hanya melihat bentuk fisik yang semakin melebar kesamping. ckckcck Saya belum memastikan sapaan mereka apakah hal tersebut merupakan kebiasaan mereka ataukah dikarenakan saya baru pulang dari perantauan. wallohu a'lam

Interaksi sosial semakin saya tingkatkan di hari-hari selanjutnya. hingga suatu saat saya mengikuti latihan sepak bola dan menyaksikan peristiwa yang tidak seharusnya disaksikan yaitu si A berpapasan dengan keluarga sendiri tanpa menoleh. jika di ibaratkan si A menghadap ke utara dan kelurganya menghadap ke timur. Naudzubillah 

Hal tersebut langsung saya tanyakan kepada teman. dengan  entengya dia berkata "korban politik desa". saya semakin penasaran hingga menanyakan kebeberapa kerabat namun jawabannya tetap sama.

Bermula dari mengadakan acara (Reunian) yang tidak dihadiri tatangga hingga beberapa tetangga yang tidak mengunjungi rumah setelah lebaran. merupakan bukti nyata akan kekhawatiran saya terhadap desa tercinta ini.

Jika melihat lembaran kegiatan yang pernah diadakan di rumah, tidak sedikit dari mereka yang ikut bercengkrama dengan keluarga dan teman-teman (saat reunian). Hingga kuliah di jurusan PAI UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) hal tersebut masih menjadi tradisi di desa saya. Namun semenjak pilkades tahun lalu hati kecil saya seakan berteriak "jangan biarkan keharmonisan desa menjadi korban politik".

Tulisan ini merupakan wujud kekhawatiran saya jika hal ini masih berlarut-larut hingga beberapa tahun kemudian. mudahan paragraf yang saya uraikan bisa di baca oleh pihak-pihak terkait hingga bisa mengoreksi diri bagaimana membangun sebuah kerukunan antarwarga tanpa terbuai dengan janji politik.


Hai teman teman backpacker dan travelista yang ganteng-ganteng dan cantik-cantik. Musim liburan tingal mengitung hari, saya ingin membagi pengalaman jalan jalan di bandung beberapa bulan yang lalu yang masih terngiang-ngiang dalam benak saya. Alhasil saya menorehkan pengalamanku dalam tulisan yang anda baca saat ini. "Kota Kembang" begitulah kata yang familiar untuk kota ini, merupakan tempat wisata menyenangkan menurutku. Bandung yang tidak jauh dari ibu kota Jakarta memiliki banyak tempat indah yang layak untuk dikunjungi. Baik itu dari jejeran factory outlet yang membuat kita ngiler ataukah wisata alam yang memancarkan panorama cantik di beberapa tempat. Ada beberapa obyek wisata Bandung yang dapat kita nikmati seperti Cihampelas (pusat perbelanjaan jeans) Cibaduyut (pusat perbelanjaan tas dan sepatu), Tangkubang Perahu (merapi), Ciates (permandian air panas), Kawah Putih, Curug Dago, dan masih banyak lagi. silahkan googling.

Yang pertama yang akan saya ceritakan adalah keberangkatan menuju kota Bandung. Sebagai kota yang luas, perjalanan ke Bandung terbilang mudah kita jangkau. Dari semua sarana transportasi yang disediakan hanya fasilitas kapal yang tidak tersedia. Untuk terminal, kita bisa menggunakan terminal Cicaheum yang melayani kedatangan dari Jawa Tengah, Jawa Barat (Ciamis, Cirebon, Garut, Tasikmalaya) dan Jawa timur. Selain terminal Cicaheum kita bisa memaksimalkan terminal Leuwipanjang yang melayani kedatangan dari Jakarta atau luar Pulau Jawa. Bagi yang ingin menggunakan kereta, dapat menggunakan Stasiun Hall (kelas bisnis eksekutif) atau menggunakan kereta ekenomi dengan stasiun Kiara Condong sebagai tempat perlabuan terakhir. Bagi yang memiliki budget gede dan ingin cepat sampai tujuan dapat menggunakan sarana trasfortasi udara, tinggal bilang "kiri,,,,kiri" ke pilotnya akan diturunkan di bandara Husein Sastranegara. kakakakkak

Berhubung budget yang saya sediakan gede maka saya menggunakan transportasi kereta api menuju kota Bandung. Djogja-Bandung dengan biaya 55.000,- menurut saya mahal cos saya hanya mahasiswa jurusan Pai yang tidak dikirimi sango oleh orang tua.hihihi kehidupan perbulan pun saya tanggulangi dengan mengajar di pesantren muallimin selain itu saya mencari tambahan uang dengan monotize blog. jadi wajarlah kalo saya bilang mahal. hahahaha... pelit amat. ckckc

Menggunakan transportasi kereta api merupakan kali pertama semenjak merantau di pulau jawa. yaahhh namanya pengalaman pertama pasti ada kejadian-kejadian yang diluar kendali kita seperti ketinggalan hp, tidak membawa makanan, hingga petugas kereta berkumpul di gerbong saya. (saya akan ceritakan dipostingan saya selanjutnya). tau gak kenapa petugasnya berkumpul? apakah saya teroris? merampok? atau melakukan pelecehan seksual??? penasaran aja dulu. ckckckc


Kereta yang dulunyu belawutan seperti di atas, penumpang yang beresak-desakan, asap rokok yang mengepul di sana-sini, banyak kasus pencurian dapat kita hindari berkat kebijakan dari pemerintah setempat. namun yang menjadi PR bagi Dinas Perhubungan adalah mengurangi pedagang asongan di dalam kereta. Alhamdulillah Jakara sedikit lebih maju mengenai hal ini. 

Setelah menempuh perjalanan 8 hingga 9 jam akhirnya saya tiba di stasiun Kiara Condong pada pukul 23.45. Hal pertama yang saya cari adalah tempat untuk istirahat. Saya menanyakan keberapa orang tempat menginap yang mudah saya jangkau namun mereka menyarakan saya menuju kota terlebih dahulu. Awalnya saya berkeinginan menginap di salah satu rumah pemimpin ormas Islam kenalan saya, namun niat tersebut saya urungkan dikarenakan satu dan lain hal yang tidak bisa saya sebutkan.

Hotel Melati Papandaya merupakan hotel pertama yang saya kunjungi. Kamar yang tersedia hanya satu. setelah mengitari dan mengecek keadaan kamar beserta fasilitasnya maka saya meninggalkan hotel tersebut. Harganya yang cukup terjangkau 160rb untuk 3 plat membuat saya ingin menginap di hotel ini. namun melihat keadaanya yang memprihatinkan, lebih buruk dari kos-kosanku maka saya urungkan menyewanya. hehehe

Mengitari Bandung untuk mencari penginapan merupakan hal yang sulit bagi saya. terlebih lagi, ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di kota distro ini. untunglah sopir yang membawa saya termasuk dari jejeran sopir yang berbudi pekerti baek. dengan santunya dia menuntun saya mencari tempat istirahat. alhasil,,,saya mendapatkan sebuah hotel yang beralamatkan di jalan Kembang Sepatu hotel Amanda Garut. walaupun harganya tidak semurah di Jogja tp lumayanlah untuk menghilangkan rasa lelah. 80rb untuk 2 plat merupakan harga yang terjangkau menurut saya. tempatnya pun masih lebih bagus dari hotel yang pertama saya datangi. alhamdulillah akhirnya bisa tidur dengan tenang.ckckckckc

Setelah menikmati sarapan pagi di hotel tesebut, saya mulai menyambangi kota bandung. yang pertama yang saya kunjungi adalah alun-alun dan mesjid agung. Jarak dari hotel ke kota dapat ditempuh menggunakan mobil preman biaya angkotnya pun relatif masih murah (3rb). Mobil preman begitulah penyebutan angkot yang satu ini. awalnya saya berpikiran mobil tersebut mirip mobil jet yang sering dikendarai preman-preman dalam sebuah Film namun ternyata hanya sebuah nama. 

Tak banyak yang saya lakukan di alun-alun kota Bandung, mengitari mesjid agung, mengambil kenang-kenangan berupa gambar dan beberapa lembar baju kaos, memasuki plaza Parahyangan hingga makan Batagor. hahhahaha

Puas berfoto ria di sekitar alun-alun dan pekarangan mesjid agung. saya melanjutkan perjalanan menuju Cihampelas (pusat perbelanjaan jeans). Cihampelas dapat kita tempuh menggunakan mobil arah Dagoo. anda cukup berjalan kaki dari plaza Parahyangan ke selatan hingga pertigaan. dari pertigaan inilah anda menaiki angkot yang mengarah ke Dago. perbelanjaan jeans di cihampelas agak mirip dengan Perbelanjaan batik Malioboro Jogja. Saya menghabisan waktu hingga 2 jam untuk mencari oleh-oleh. yang membuat saya ketawa hingga terjingkrak-jingkrak makan peuyeum (Makassar: poteng) saat kehujanan. Melihat hujan yang tidak kunjung reda maka saya dan teman-teman berinisiatif menggunakan taksi ke terminal Leuwipanjang untuk melanjutkan perjalanan ke kota Bogor. selamat tinggal kota Bandung...

Ketika meninggalkan kota Bandung ada rasa sedih karena tidak tahu kapan lagi bersua dengan kota kembang ini. saya belum mengunjungi tempat wisata bandung utara seperti tangkubang perahu saat itu pengunjung dilarang memasuki kawasan gunung hingga 5 km (Status Waspada), Ciates, Kawah Putih, dll namun saya tersenyum geli mengingat-ingat kejadian yang saya alami. mulai dari ketinggalan hp, menarik perhatian petugas kereta api, gonta-ganti kereta, mencari penginapan yang tak kunjung dapat, keinganan makan nasi tutu uncom yang belum tergapai, hingga kehujanan di daerah cihampelas. Semuanya itu merupakan pengalaman yang sulit saya lupakan. hanya sebuah bukti fisik yang membuat saya tertawa terbahak-bahak.

Sebenarnya saya mengunjungi kota bandung dengan beberapa teman. namun dengan alasan privasi dan takut anda iri dengan saya. maka saya tidak menyebutkan tokoh-tokoh yang menemani saya. hahaha tunggu kelanjutan backpacker saya di kota Hujan (kota Bogor). Perlu anda ketahui tempat wisata bandung dan bogor tidak jauh berbeda dengan tempat wisata di yogyakarta.